Kamis, 29 Januari 2009

IDENTIFIKASI KONDISI SEDIMENTASI DI WADUK PLTA BAKARU DALAM UPAYA MENANGGULANGI KRISIS ENERGI LISTRIK DI PROVINSI SULAWESI SELATAN DAN SULAWESI BARAT

Abdul Wahid
Staf Pengajar Fakultas Teknik Universitas Tadulako
ABSTRACT
The research was conducted at upstream Sad’dang Village Lembang District Pinrang Regency South
Sulawesi Province about 250 km from Maassar City that were locate of Power Plant of PLTA
Bakaru consist of reservoar, dam, intake, head race tunnel, dump plat, penstock, power house,
turbin, generator, main travo, and water gates and at Mamasa Watershed in Mamasa Regency
Region West Sulawesi Province about 200 km Mamuju. The result of the research indicate that
sedimentation and erosion condition at PLTA Dam in Bakaru more and more incresing with up high
big enough accord in five years later that are 6.017.635 m3, 5.674.690 m3, 6.072.992 m3, 6.355.321
m3 and 6.331.400 m3 from degredation forest, agriculture/garden, slide soil from road construction
activity, exploration stone, base home construction and athers construction activity at as long as
Mamasa river line.
Key words: Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis
PENDAHULUAN
Sejalan dengan makin meningkatnya
aktifitas perekonomian
masyarakat di wilayah provinsi
Sulawesi Selatan, maka kebutuhan
masyarakat terhadap energi listrik
juga meningkat dengan pesat menurut
proyek kebutuhan listrik PLN di
provinsi Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Tenggara berdasarkan rasio
elektrifikasi tahun 2003 adalah 53,7%
tahun 2008 adalah 55,7% dan tahun
2013 adalah 58,1%. Namun demikian,
peningkatan kebutuhan tersebut tidak
diiringi dengan penyediaan daya yang
memadai. Kenyataan yang ada saat ini
yaitu hampir seluruh wilayah di
Sulawesi Selatan mengalami krisis
energi listrik. Telah diketahui bahwa
kebutuhan energi listrik di Sulawesi
Selatan dipenuhi dari beberapa sistem
dan sub sistem pembangkit listrik
dengan berbagai sumber dan salah
satu diantaranya adalah Pembangkit
Listrik Tanaga Air Bakaru.
Pembangunan Pembangkit Listrik
Tanaga Air yang disingkat
dengan istilah PLTA dengan tahapantahapan
pelaksanaan pembangunannya
yang dimulai dari studi kelayakan
(1976-1977), perencanaan dasar
(1977-1981), awal fasilitas lapangan
(Juli 1981), studi analisa dampak
lingkungan (1981), perencanaan detail
(1982-1984), pembebasan lahan dan
pemukiman kembali (1982-1984),
persiapan dokumen tender (1984-
1985), penawaran pekerjaan utama
(1985-1987), awal pemabngunan
pekerjaan utama (April 1987),
pengujian individual (Oktober 1987),
commisioning test (Desember 1990),
pengujian operasi komersial (17
Desember 1990), peresmian sinkronisasi
oleh Menteri Pertambangan
dan Energi Ir. Drs. Ginanjar
Kartasasmita (22 Desember 1990) dan
berakhir dengan Peresmian Operasi
oleh Presiden Soeharto 13 Mei 1991
dengan kapasitas terpasang 126 MW,
telah berhasil mengatasi kekurangan
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
24
energi listrik di daerah ini. Selain itu
PLTA Bakaru telah berhasil
mendorong kegiatan berbagai sektor
pembangunan di Sulawesi Selatan.
Berbagai kegiatan industri, termasuk
industri kecil/rumah tangga,
pendidikan, kesehatan, dan kegiatan
ekonomi lainnya mulai tumbuh dan
berkembang di daerah ini. Kondisi
seperti ini seharusnya tetap dipelihara
sehingga manfaat keberadaan PLTA
ini dapat benar-benar dinikmati oleh
masyarakat di Sulawesi Selatan.
Sehubungan dengan telah
selesainya pembangunan PLTA
tersebut, maka berbagai dampak
negatif yang timbul akibat pembangunan
PLTA seharusnya dapat
diminimilisasi atau ditiadakan.
Berbagai dampak yang timbul adalah
meningkatnya sedimentasi di Waduk
PLTA Bakaru, diantaranya hasil studi
dari tim yang diorganisasikan oleh
Japan International Coorperation
Agency (JICA) pada tahun 1982,
menunjukkan bahwa total sediment
load tahunan rata-rata di Daerah
Aliran Sungai Mamasa dengan luas
108.000 Ha, diperkirakan sebesar 133
x 10.000 m3 atau 126 m3/km2 yang
setara dengan kehilangan lapisan
tanah sebesar 0,13 mm/tahun, hasil
studi Analisis Dampak Lingkungan
terhadap Pengembangan Pembangkit
Listrik Tenaga Air Bakaru pada tahun
1998, menyatakan bahwa sedimentasi
yang terjadi di Waduk PLTA Bakaru
diperkirakan sebesar 480.000
ton/tahun demikian pula dalam kajian
sedimentasi yang berjudul Analisis
Sumber Sedimentasi dan Upaya
Penanggulangan Pendangkalan DAM
Bakaru Propinsi Sulawesi Selatan
yang merupakan kerjasama antara
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Daerah (Bapedalda) Propinsi
Sulawesi Selatan dengan Devisi
Pengembangan Teknologi Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai, bersama
Lembaga Pengabdian pada
Masyarakat (LPM) Universitas
Hasanuddin Tahun 2002 merekomendasikan
bahwa pengendalian
erosi untuk jangka panjang perlu
dibentuk satu Badan Pengelola DAS
Mamasa dimana badan pengelola
tersebut terdiri dari tiga tim yaitu tim
pengarah, tim perencana dan tim
pelaksana. Tim pengarah merumuskan
kebijakan-kebijakan, menyusun
standar dan kriteria keberhasilan serta
pedomen monitoring dan evaluasi
kegiatan. Tim perencana menyusun
rencana pengelolaan DAS secara
menyuluruh, sesuai arahan tim
pengendali. Tim pelaksana melaksanakan
pekerjaan lapangan sesuai
rencana dan standar/kriteria yang
telah ditetapkan. Keanggotaan Badan
Pengelola DAS Mamasa ini
melibatkan Pemerintah (Pusat,
Propinsi, Kabupaten, Kelurahan dan
Desa), PLN dan Badan Usaha yang
terkait serta masyarakat (masyrakat
adat, LSM, Ormas dan lain-lain).
Kondisi yang memprihatinkan
di atas itu, didasarkan atas penelitian
yang dilakukan oleh PT. PLN
(Persero) Wilayah Sulsel dan Sultra
Sektor Bakaru Periode Juni 2005,
menunjukkan bahwa volume air di
waduk cenderung menurun dari
kapasitas tampung 6.919.900 m3 pada
tahun 1990 menjadi 588.500 m3 pada
tahun 2005, sedangkan volume
sedimentasi menunjukkan peningkatan
yang signifikan yaitu 0 m3 pada
tahun 1990 menjadi 6.331.400 m3
pada tahun 2005.
Selanjutnya juga dinyatakan
bahwa jika pengembangan PLTA
Bakaru telah selesai, maka diperkirakan
akan menimbulkan efek
hilir sehubungan dengan naiknya
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
25
muka air sekitar 1,5 meter dan adanya
pelepasan air mendadak dari 0
m3/detik menjadi 90 m3/detik
terhadap pengguna air disebelah hilir
power house. Selain masalah
sedimentasi dan efek hilir tersebut di
atas, beberapa permasalahan sosial
juga muncul. Menurut laporan
masyarakat dari Dusun Bone, Desa
Ulu Saddang, Kecamatan Lembang,
Kabupaten Pinrang, akibat proses
sedimentasi yang terus meningkat di
waduk Bakaru maka pada beberapa
tahun terakhir ini permukiman mereka
termasuk kebun, sawah dan jalan
yang menghubungkan antar
kecamatan tergenang air. Akibatnya
banyak jalan rusak dan tanaman
perkebunan yang dikelola oleh
masyarakat seperti kemiri, kakao,
kopi dan buah-buahan tidak lagi
berproduksi dan bahkan terancam
mati. Selain itu sawah-sawah yang
tergenang air juga menyebabkan
gagal panen. Kondisi seperti ini
sangat meresahkan masyarakat
khususnya di Dusun Bone, Dusun
Silei, dan Dusun Salumada, Desa Ulu
Saddang.
Akibat volume sedimentasi
yang mengendap begitu cepat, ratarata
4.230.224 m3/tahun maka daya
tampung waduk pada saat ini menjadi
super kritis, oleh karena itu PT. PLN
(Persero) Wilayah Sulsel, Sultra, dan
Sulbar Sektor Bakaru melakukan
salah satu upaya melalui Presentasi
Dampak Sedimentasi Terhadap
Performance Pembangkit Listrik
Tanaga Air Bakaru yang dilaksanakan
pada Tanggal 1 September 2005 di
Hotel Sahid Makassar, menyatakan
bahwa laju sedimen menurut desain
New-Jec adalah 133.000 m3/tahun
sehingga kapasitas waduk sebesar
6.919.900 m3 akan penuh sesuai umur
rencana 50 tahun tapi kenyataan baru
15 tahun kapasitas waduk sisa
588.500 m3 berarti sudah terisi
sebesar 6.331.400 m3. Selanjutnya
disampaikan bahwa terjadi dampak
sedimentasi terhadap peralatan turbin
dan cooling system dimana interval
pemeliharaan peralatan menurut Buku
Manual 8 sampai 10 tahun ternyata
rata-rata dilaksanakan 4 tahun,
bahkan terjadi klaim dari masyarakat
lingkungan PLTA Bakaru karena
ladang dan kebun sepanjang bantaran
sungai tergenang air akibat
pendangkalan dasar sungai pada saat
banjir tiba dan beban maksimum saat
kemarau hanya mampu selama 2 jam
selebihnya yang beroperasi hanya 1
unit dengan beban rata-rata 27 MW.
Berbagai upaya telah dilakukan
untuk mengatasi pendangkalan di
Waduk Pembangkit Listrik Tenaga
Air Bakaru salah satu cara yaitu
dengan penggelontoran yang dimulai
tanggal 4 Februari 2000 dengan nilai
volume sedimen terbuang 893.500
m3, 5 April 2001 dengan nilai volume
sedimen terbuang 258.840 m3, 5
September 2001 dengan nilai volume
sedimen terbuang 187.722 m3,2 Mei
2005 dengan nilai volume sedimen
terbuang 543.429 m3, 7 Maret 2005
dengan nilai volume sedimen
terbuang 162.000 m3, dan terakhir
tanggal 25 Januari 2006 dengan nilai
volume sedimen terbuang 540.000
m3, namun upaya-upaya yang telah
dilakukan tersebut di atas nampaknya
belum memberikan hasil yang
diharapkan, karena volume
sedimentasi di dalam waduk tersebut
masih tetap artinya belum
menunjukkan adanya perubahan
volume akibat adanya pekerjaan
pengerukan tersebut .
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
26
Tujuan Penelitian
Melihat latar belakang di atas,
dimana tingkat sedimentasi di Waduk
Pembangkit Listrik Tanaga Air
Bakaru meningkat secara nyata dari
waktu ke waktu dan saat ini telah
mencapai tingkat yang sangat
mengkhawatirkan. Untuk mencegah
terjadinya peningkatan sedimentasi
dan untuk menjamin optimalisasi
fungsi Pembangkit Listrik Tanaga Air
Bakaru, maka perlu dilakukan upayaupaya
sistematis dan terencana yang
didasarkan penelitian tentang
karakteristik Daerah Aliran Sungai
dan karakteristik Sedimentasi pada
kawasan penyangga Pembangkit
Listrik Tanaga Air Bakaru.
Berdasarkan uraian di atas,
maka dapat dirumuskan Tujuan
Penelitian ini adalah untuk
Mengetahui Karakteristik Sedimentasi
Di Waduk Pembangkit Listrik Tenaga
Air Bakaru Dalam Upaya
Menanggulangi Krisis Energi Listrik
di Provinsi Sulawesi Selatan dan
Provinsi Sulawesi Barat.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan
pada dua tempat, yaitu Desa Ulu
Saddang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi
Selatan yang berjarak ± 250 km dari
kota Makassar yaitu tempat
pengoperasian PLTA yang terdiri dari
waduk, bendungan, intake, head race
tunnel, tangki pendatar, penstock,
power house, turbin, generator, trafo
utama, dan pintu-pintu air dan di
Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa
pada wilayah Kabupaten Mamasa
Provinsi Sulawesi Barat yang berjarak
± 200 km dari kota Mamuju.
Pengumpulan Data
Kegiatan penelitian ini bersifat
eksplanation yang bertujuan menjelaskan
permasalahan sedimentasi di
Waduk PLTA Bakaru dan hubungannya
dengan penyediaan listrik di
Sulawesi Selatan. Pengum-pulan data
dilakukan melalui survei dan
wawancara langsung kepada pihakpihak
terkait yang berada dalam
lingkup DAS Mamasa termasuk
PLTA Bakaru, Pemerintah Daerah
Kabupaten Pinrang dan Pemerintah
Daerah Kabupaten Mamasa.
Penggalian informasi atau data
dilakukan dengan mengumpul-kan
data primer dan sekunder. Data
primer diperoleh dari wawancara
langsung kepada pihak-pihak yang
terkait dengan substansi kegiatan
penelitian seperti perkembangan
sedimen, debit air, pasokan listrik,
dan data lain yang dianggap perlu.
Data sekunder yang digunakan
diperoleh dari penelusuran pada
instansi-instansi terkait, hasil-hasil
penelitan dan kajian yang telah
dilakukan yang berkaitan dengan
substansi kegiatan seperti administrasi
kepemerintahan, curah hujan, lahan
kritis, dan data lain yang diperlukan.
Analisis Data
Dalam mencapai tujuan yang
diinginkan dalam pelaksanaan
kegiatan penelitian ini, maka teknik
analisis data yang digunakan setelah
memperoleh data-data adalah teknik
statistik deskriptif yaitu menganalisis
data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya
melalui tabel, grafik, perhitungan
persentase, dan lain-lain tanpa
bermaksud membuat kesimpulan
yang berlaku untuk umum atau
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
27
generalisasi, tetapi dapat digunakan
untuk merumuskan kebijakan yang
akan digunakan dalam mengatasi
masalah sedimentasi di Waduk PLTA
Bakaru dalam hubungannya dengan
terjadinya krisis energi listrik di
Provinsi Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Barat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Eksisting Waduk
Terhadap Ketersediaan Energi
Listrik di Sulawesi Selatan
Bendungan atau Dam Bakaru
dan Pembangkit Listrik Tenaga Air
(PLTA) berlokasi di ruas muara aliran
Sungai Mamasa tepatnya berjarak 40
Km dari ruas jalan provinsi
(Makassar-Polewali). Secara administrasi
Waduk dan PLTA Bakaru berada
dalam wilayah Desa Ulu Saddang,
Kecamatan Lembang Kabupaten
Pinrang. Sumber air bagi PLTA
Bakaru berasal dari Sungai Mamasa.
PLTA Bakaru yang pekerjaan
konstruksinya dimulai pada bulan
April 1987, mulai beroperasi pada
bulan Maret 1991 dengan kapasitas
1.030 GWH. Namun dengan adanya
sedimentasi, maka PLTA Bakaru
sampai saat ini belum pernah
mencapai kemampuan produksi
energi tersebut di atas tetapi hanya
berkisar 800 GWH.
Beberapa hal yang terkait
dengan kondisi waduk Bakaru saat ini
khususnya tentang terjadinya
sedimentasi yang mengurangi volume
air dalam waduk yang berpengaruh
langsung terhadap penyediaan energi
listrik antara lain :
Sumber Sedimentasi
Dalam uraian terdahulu tentang
kondisi fisik wilayah pada DAS
Mamasa menunjukkan bahwa pengelolaan
dan pemanfaatan hutan sangat
berpengaruh terhadap terjadinya
kerusakan hutan yang menyebabkan
erosi dan sedimentasi. Curah hujan
yang tinggi (rata-rata 2.260 mm
pertahun) pada DAS Mamasa dan
ditunjang dengan kondisi topografi
yang didominasi dengan kemiringan
≥40% seluas 75.921,62 ha (73,44%)
dari total luas lahan yang terletak
pada sebagian besar di daerah hulu,
menjadi faktor penentu besarnya
kecepatan dan volume air larian.
Pemanfaatan dan pengelolaan
hutan yang tidak terkendali dengan
kondisi seperti di atas akan
menyebabkan makin meningkatnya
lahan kritis. Hal tersebut dapat
dibuktikan pada DAS Mamasa
dengan luas lahan kritis yang saat ini
cenderung semakin meningkat baik
dalam kawasan hutan maupun di luar
kawasan hutan yaitu sebesar 8.450 ha.
Lahan kritis yang terus bertambah ini
disebabkan oleh kegiatan penebangan
liar, perambahan hutan dan perladangan
berpindah yang dilakukan
oleh masyarakat, maupun yang
dilakukan bekerjasama dengan pihak
lain tanpa diikuti dengan tindakan
konservasi khususnya pada daerah
tangkapan air (Catchment Area).
Penutupan lahan berupa kebun
campuran pada daerah hulu sebesar
17,63% dari luas hutan yang berada
pada DAS Mamasa merupakan salah
satu bukti kegiatan masyarakat dalam
menggunakan lahan. Hal tersebut
dilakukan oleh masyarakat akibat
terbatasnya lahan dan tidak
produktifnya lagi lahan untuk bertani
pada wilayah hilir, minimnya
penguasaan teknologi pertanian dan
kemampuan ekonomi masyarakat
yang sangat terbatas.
Secara umum digambarkan
bahwa dari 54.170 ha kawasan hutan
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
28
yang berada pada DAS Mamasa, yang
masih tergolong baik sebesar 28.810
ha atau dengan kata lain 52,35%
merupakan kawasan hutan yang
rusak. Pada tabel 6 ditunjukkan data
tentang lahan kritis pada sub-sub
DAS yang terdapat di Kabupaten
Mamasa serta Cekdam dan Dam
Penahan yang ada pada sub DAS.
Tabel 1. Data Lahan Kritis Pada Sub-Sub DAS Mamasa Tahun 2005
No. Kab. Mamasa/
Kecamatan
Luar
Kawasan
Hutan
(Ha)
Dalam
Kawasan
Hutan
(Ha)
CEKDAM
(Unit)
DAM
PENAHAN
(Unit
1. DAS/Sub DAS
Mamasa
1. Kec. Mamasa
2. Kec. Sesena Padang
3. Kec. Tanduk Kalau
4. Kec. Balla
5. Kec. Sumarorong
6. Kec. Messawa
1.675
1.025
550
725
500
550
1.100
500
525
500
700
100
1
4
1
1
-
1
374275
2. DAS/Sub DAS
Masuppu
1. Kec. Pana
2. Kec. Nosu
3. Kec. Tabang
2.600
1.700
800
700
300
540
-
2
-
40
23
4
3. DAS/Sub DAS Mapilli
1. Kec. Mambi
2. Kec. Aralle
3. Kec. Bambang
1.500
1.225
1.050
300
650
200
4
-
-
12
12
4. DAS/Sub DAS
Kalukku
1. Kec. Tabulahan 700 600
1 2
5. DAS/Sub DAS
Bonehau
- - - -
Jumlah 14.600 6.715 15 112
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Mamasa, 2005
Tabel 1 diatas menggambarkan
bahwa pengadaan Cekdam dan Dam
Penahan yang berfungsi untuk
menahan sedimen masih sangat
kurang apabila dibandingkan dengan
luas wilayah yang potensil
menghasilkan sedimen. Pada sisi lain
kawasan hutan lindung yang harusnya
berfungsi sebagai pengatur tata air
dan pengendali erosi ternyata tidak
mampu lagi secara efektif dalam
mencegah banjir, erosi dan longsor.
Sumber erosi lainnya adalah
kegiatan usaha tani masyarakat, yang
tidak melaksanakan tindakan-tindakan
konservasi tanah dan air serta sistem
pengolahan tanah yang dilakukan
dengan cara yang sangat sederhana.
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
29
Pada DAS Mamasa terdapat sekitar
40.000 ha areal pertanian yang
dikelola tanpa teknik pengelolaan
tanah dan tidak memperhatikan
prinsip-prinsip konservasi tanah dan
air, sehingga pada akhir tahun 2002
areal yang potensial untuk usaha tani
tersebut sebagaian besar (32.151 ha
atau 80,38%) merupakan sumber
erosi. Areal yang cukup luas inilah
yang merupakan sumber sedimen di
DAS Mamasa.
Hasil prediksi erosi dari
beberapa bentuk penggunaan lahan
yang diolah dari berbagai sumber dan
hasil penelitian disajikan pada tabel 2
berikut ini.
Tabel 2. Erosi pada Berbagai Penutupan Lahan di DAS Mamasa
Sumber: Diolah dari Berbagai Sumber
Sumber erosi lainnya di DAS
Mamasa adalah berasal dari kegiatan
konstruksi di daerah kanan kiri
sepanjang sungai Mamasa. Kegiatankegiatan
konstruksi tersebut berupa
pembangunan/pelebaran jalan-jalan
utama, perataan tanah untuk peletakan
tapak bangunan rumah/kantor dan
beberapa kegiatan lainnya. Kegiatan
pembangunan pada daerah miring
disepanjang alur Sungai Mamasa
merupakan ancaman serius bagi
sedimentasi waduk. Kegiatan ini
merupakan penyumbang terbesar
sedimentasi, khususnya sedimentasi
dasar (Base Load) yang pada
umumnya terdiri dari partikel/butirbutir
yang besar sehingga
pergerakannya di dasar sungai. Hasil
analisis jumlah erosi pada beberapa
sungai utama di DAS Mamasa
disajikan pada tabel 3.
No. Jenis Penggunaan/Penutupan Lahan Erosi (ton/ha/tahun)
1. Hutan Alam 115,75
2. Hutan Tanaman 127,38
3. Tanaman Kopi dengan Naungan 138,07
4. Tanaman Semusim (Jagung dan Sayursayuran)
149,01
5. Alang-alang/Semak Belukar 134,96
6. Kentang/Bawang Daun 193,08
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
30
Tabel 3. Jumlah Ersi Sungai Utama di DAS Mamasa
No. Sungai Utama Jumlah Erosi (ton/ha/thn) Tingkat Bahaya Erosi
1. Malengo 135.404 Berat
2. Kewari 162.119 Berat
3. Nunuan 210.045 Sangat Berat
4. Kunall 95.035 Sedang
5. San 411.596 Sangat Berat
6. Silawa 180.501 Berat
7. Balo 153.210 Berat
8. Sapai 294.651 Sangat Berat
9. Sumule 181.224 Berat
10. Sibenawa 140.335 Berat
11. Lombe 225.117 Sangat Berat
12. Batuapang 395.899 Sangat Berat
13. Miwah 123.778 Berat
14. Malobo 184.467 Berat
15. Kadikke 194.778 Berat
16. Kampinisan 266.870 Sangat Berat
17. Kadake 274.013 Sangat Berat
18. Bue 485.350 Sangat Berat
19. Tatean/Mamasa 395.273 Sangat Berat
Jumlah 4.509.665 -
Sumber: Hasil analisis penelitian JICA setelah diolah, 2003
Dari tabel di atas dapat
ditunjukkan bahwa perusakan hutan
di DAS Mamasa telah termasuk
kategori sangat berat. Hal tersebut
juga dapat ditunjukkan pada berbagai
tempat sepanjang DAS Mamasa
terutama pada daerah-daerah dengan
tingkat kemiringan curam akan
ditemukan erosi alur, parit dan bahkan
longsor. Selain itu juga ditemukan
kerusakan yang lebih parah pada
hutan-hutan produksi.
Perlu diperhatikan pula bahwa
disamping sungai-sungai utama yang
berpotensi erosi, sungai-sungai kecil
yang terdapat di DAS Mamasa juga
memiliki potensi erosi yang relatif
sama. Adapun jumlah sungai dan
anak sungai di Kabupaten Mamasa
sebanyak 53 dengan rincian yaitu
DAS Mamasa/sungai Mamasa
(Tetean, Lambanan, Pembu’, Bue,
Kappisan, Makuang, Kopian) DAS
Masuppu/sungai Masuppu (Mawai,
Sipate, Pauan, Marudinding, Liasa,
Tallang Bulawan, Peonan, Solo,
Randelangi’, Patottong, Siwi,
Paroreang, Lekkong, Makeli) DAS
Mapilli/sungai Mapilli (Mambi,
Aralle, Salurindu’, Salu Kaiang,
Tambun, Panetean, Ralleanak,
Makonan, Mehalaan, Leko,
Lantebung, Sambabo), DAS
Kalukku/sungai Kalukku (Malatiro,
Burake, Pangandaran), dan DAS
Bonehau/sungai Hau (Talambo, Paku,
Ma’bu, Taloang, Tapeduri,
Tamelautu, Siarrak, Esang, Lakahang,
Batu).
Pendangkalan Waduk
Kondisi lahan kritis yang makin
meningkat pada DAS Mamasa akan
cenderung pula meningkat laju erosi
yang pada akhirnya mempercepat
proses terjadinya sedimentasi yang
akan menyebabkan pendangkalan alur
sungai dan di waduk yang menjadi
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
31
semakin meningkat. Pada beberapa
tahun terakhir ini laju sedimentasi di
waduk telah mencapai 480.000 m3
pertahun, dari 133.000 m3 pertahun
yang didesain oleh New-Jec pada saat
pembangunan PLTA Bakaru. Berdasarkan
hasil pengukuran terakhir
kerjasama antara PLN dan UNHAS
menunjukkan bahwa laju sedimentasi
saat ini mencapai 700.000 m3
pertahun, yang menyebabkan volume
air yang tersisa dalam waduk adalah
593.710 m3 dari volume air pada saat
penggenangan tahun 1990 sebesar
6.919.900 m3. Dengan demikian
terdapat 6.331.400 m3 sedimen yang
mengendap dalam waduk. Kondisi ini
dapat dilihat secara nyata dengan
terbentuknya beberapa delta dalam
waduk. Perkembangan sedimen yang
ada dalam waduk dapat dilihat pada
makin berkurangnya volume air yang
terdapat dalam waduk seperti
ditunjukkan pada tabel 4 dan gambar
1 berikut ini.
Tabel 4. Volume Sedimen yang Mengendap di Waduk PLTA Bakaru
No. Uraian
Volume air
di Waduk
elv.615,50
(m3)
Volume
Sedimen
elv.615,50
(m3)
Volume
Sedimen di
atas elv.615,50
(m3)
Volume
Sedimen yg
mengendap
(m3)
1. Penggenangan New-Jec
(30 September 1990)
6.919.900 0 - -
2. Pengukuran PLN SBKR
(Februari 1994)
4.469.697 2.450.203 - -
3. Pengukuran PLN PST
(Oktober 1995)
3.250.000 3.669.900 - -
4. Pengukuran PLN SBKR
(September 1996)
2.310.498 4.609.402 - -
5. Pengukuran PSL Unhas
(Oktober 1997)
2.165.506 4.754.394 - -
6. Pengukuran PSL Unhas
(April 1999)
902.265 6.017.635 - -
7. Pengukuran PLN SBKR
(Maret 2000)
1.335.563 5.584.300 - -
8. Pengukuran PSL Unhas
(Nopember 2000)
1.245.210 5.674.690 - -
9. Pengukuran LPPM Unhas
(April 2001)
923.249 5.996.651 - -
10. Pengukuran PLN SBKR
(Desember 2001)
846.908 6.072.992 - -
11. Pengukuran PLN SBKR
(Desember 2002)
983.469 5.936.431 965.424 6.901.855
12. Pengukuran LPPM Unhas
(Mei 2004)
564.579 6.355.321 1.741.070 8.096.391
13. Pengukuran PLN SBKR
(Juni 2005)
588.500 6.331.400 1.926.700 8.258.100
Sumber: Laporan Pengukuran/Penelitian Sedimentasi dan Kualitas Air Waduk
PLTA Bakaru, 2005
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
32
Gambar 1. Perkembangan Volume Air dan Sedimen di Dalam Waduk PLTA
Bakaru
Tabel di atas menunjukkan
bahwa pendangkalan di waduk yang
terus berlangsung menyebabkan
volume air menjadi semakin menurun
dan kapasitas tampung air dari waduk
menjadi sangat terbatas. Hal tersebut
sangat berpengaruh terhadap kebutuhan
PLTA dalam menyediakan
pasokan listrik keseluruh wilayah
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Kondisi ini akan diperparah pada saat
musim kemarau dengan debit air yang
akan masuk ke dalam waduk sangat
berkurang. Beban maksimum PLTA
pada saat musim kemarau hanya
mampu selama 2 jam dan selebihnya
hanya beroperasi 1 unit turbin dengan
beban rata-rata 27 MW. Untuk
mengantisipasi hal ini maka PLN
mengantisipasi kebutuhan listrik
dengan melakukan pemadaman
bergilir.
Dalam memenuhi kebutuhan
listrik pada saat beban puncak yang
diperkirakan sebesar 399,65 MW,
maka PLN menampung air pada siang
hari sehingga mencapai kapasitas
yang dibutuhkan untuk 2 turbin yaitu
antara 37 sampai dengan 43 m3
perdetik.
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
33
Gambar 2. Perkembangan Debit Air Yang Masuk Dalam Terowongan Tahun 2001-2005
Sementara pada siang hari
hanya dioperasikan 1 turbin untuk
memasok kebutuhan listrik. Selain
menampung air pada siang hari PLN
juga mendapatkan pasokan air dari
hujan lokal yang sering terjadi
disekitar bendungan walaupan debitnya
sangat kurang dibandingkan
dengan pasokan air dari hulu sungai
Mamasa. Gambaran tentang
perkembangan debit air yang masuk
keterowongan dapat dilihat pada
gambar 1.
Hal ini berarti bahwa pada saat
intensitas curah hujan tinggi,
kemampuan waduk menyimpan air
rendah dan tidak lagi mampu
menampung air yang masuk sehingga
meluap ke daerah sekitarnya dan air
akan melimpah ke bantaran sungai.
Kondisi inilah yang terjadi di Dusun
Bone, Selei dan Salumada yang
sebelumnya diperkirakan tidak
mungkin tergenang karena ketinggian
daerah tersebut masih beberapa meter
diatas elevasi muka air tertinggi
Bendungan yaitu 615,50 m. Namun
perkembangan pendangkalan/sedimentasi
yang tidak terpola dan justru
mulai dari bagian terjauh dari
Bendung maka situasi tersebut dapat
saja terjadi.
Daerah yang terkena dampak
langsung genangan adalah Dusun
Bone, Dusun Silei, dan Dusun
Salumada. Berdasarkan wilayah
pemerintahan, dusun-dusun ini
termasuk Desa Ulu Saddang,
Kecamatan Lembang Kabupaten
Pinrang. Khusus untuk Desa Buttu
Batu yang terkena genangan dan
berada di sekitar waduk sudah
dibebaskan dan dipindahkan ke
wilayah yang lebih aman di Desa
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
34
Salimbongan. Sedangkan masyarakat
yang bermukim di Dusun Bone,
Dusun Silei dan Dusun Salumada
termasuk dalam wilayah pemerintahan
Desa Ulu Saddang. Lokasi
Dusun Bone berada sekitar 6 km dari
mulut Bendungan Garugu, disusul
Dusun Silei dan Dusun Salumada.
Pada saat permulaan genangan di
Bendungan Garugu, Dusun Bone
belum dijangkau oleh limpasan
permukaan air sungai bilamana terjadi
banjir di Sungai Mamasa. Namun
akibat sedimentasi yang semakin
menumpuk pada permukaan sungai
atau sekitar 7 tahun PLTA beroperasi
baru terjadi limpahan air sungai yang
merusak persawahan dan perkebunan
kakao, kopi serta tanaman lainnya dan
merupakan sumber pendapatan
masyarakat dengan luas ± 55 ha dan
jumlah tanaman meliputi kakao
sekitar 31.838 pohon, kopi sekitar
42.719 pohon, kemiri sekitar 244,
durian sekitar 16 dan langsat sekitar
72 pohon.
Beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada beberapa
tahun terakhir ini proses sedimentasi
lebih cepat terjadi pada jarak sekitar 3
km dari Bangunan Bendung Garugu
ke atas. Kondisi sedimentasi di waduk
disajikan pada gambar 3.
Gambar 3. Profil Waduk PLTA Bakaru
Identification, Condition, Sedimentation Electricity, Crisis ISSN 1411-4674
35
KESIMPULAN
Erosi dan Sedimentasi di
waduk PLTA Bakaru menunjukkan
kecenderungan yang semakin meningkat
dengan peningkatan yang
cukup besar terjadi pada 5 (lima)
tahun terakhir yaitu 6.017.635 m3,
5.674.690 m3, 6.072.992 m3,
6.355.321 m3 dan 6.331.400 m3 yang
berasal dari kawasan hutan yang
rusak, areal pertanian/tegalan/kebun
rakyat, longsor dari kegiatan-kegiatan
pembangunan jalan, penambangan
batu, pembuatan tapak rumah dan
kegiatan-kegiatan konstruksi lainnya
di sepanjang alur sungai Mamasa.
Kondisi geologi dan struktur
tanah di DAS Mamasa yang pada
umumnya berpasir dengan kandungan
pasir kuarsa merupakan potensi erosi
yang akan terus mengancam waduk,
bila tidak ditangani secara konseptual,
terencana, sistematis dan menyeluruh.
SARAN
Perlu segera dilakukan secara
periodik pengerukan waduk, penggolontoran
dan rehabilitasi daerah
bantaran sungai. Hal ini sangat
diperlukan jika musim kemarau pada
saat debit air dari sungai Mamasa
berkurang, karena dampaknya
langsung dirasakan pada operasional
PLTA Bakaru dengan dilakukannya
pemadaman bergilir di seluruh
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan
dan Sulawesi Barat yang teraliri
listrik karena kapasitas PLTA tidak
dapat optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Amano K. And Suzuki H. 2003.
Modeling of Suspended
Concentration Affected by
Resuspension of Bottom
Sediments in a shallow
Reservoir. Proceeding of the 1st
International Conference on
Hydrology and Water Resources
in Asia Pasicif Region. Pa-lu-lu
Plaza, Kyoto, Japan.
Arsyad, S., 2000. Konservasi Tanah
dan Air. Penerbit IPB/IPB
PRESS, Program Pascasarjana
IPB.
Asdak, C., 2002. Hidrologi dan
Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Badan Penelitian dan Pengembangan
Daerah (Balitbangda)
Pemerintah Propinsi Sulawesi
Selatan, 2005, Quick Research
Report Kondisi Eksisting DAM
Bakaru Terhadap Ketersediaan
Energi Listrik di Sulawesi
Selatan, Makassar.
Bennett S.J and Alonso C.V. 1997.
Erosion and Sedimentation
Research in The U.S.
Departement Of Agriculture,
Agriculture Research Service.
Proceedings the U.S. Geological
Survey (USGS) Sediment
Workshop, Februari 4-7.
Budihardja D. dan Syaifuddin, 2003.
Prediksi Erosi dan Sedimentasi
di Dataran Tinggi Bedugul
Propinsi Bali Menggunakan
Model ANSWERS. Jurnal
Alami, Vol.8 Nomor 1: 46-54.
Jakarta.
Haan C.T., Barfield B.J. and Hayes
J.C., 1994. Design Hydrology
and Sedimentology for Small
Catchments. Academic Press. A
Division of Harcourt Brace &
Company San Diego, New
York, Boston, London, Sydney,
Tokyo and Toronto.
Abdul Wahid ISSN 1411-4674
36
Hargono B. 2003. Sabo, Sediment
Control Strategi in Indonesia.
Proceeding of the 1st
International Conference on
Hydrology and Water Resources
in Asia Pasicif Region. Pa-lu-lu
Plaza, Kyoto, Japan.
Hoque M.M, Bala S.K, Haque M.A,
and Ahmed S.M.U. 2003. Flow
and Erosion of the Meghna
River at the Vicinity of the
Meghna Bridge. Proceeding of
the 1st International Conference
on Hydrology and Water
Resources in Asia Pasicif
Region. Pa-lu-lu Plaza, Kyoto,
Japan.
Hossain M.M, Kader M.M, and Islam
Md.R. 2003. Sediment Transport
Aspects Of The Gorai
River in Bangladesh. Proceeding
of the 1st International
Conference on Hydrology and
Water Resources in Asia Pasicif
Region. Pa-lu-lu Plaza, Kyoto,
Japan.
Mappangaja, B. 1996. Kajian Tata Air
pada Areal HPH/HTI. Balai
Teknologi Pengelolaan DAS
Ujungpandang.
Munir A. dan Wahid A., 2007.
Development of WEBGeospatial
Simulation for River
Basin Management in
Indonesia. International Seminar
on River and Development
“Environmentally Sound River
Development”,The Patra Bali
Resort & Villas Bali –
Indonesia, 25-27 April 2007,
Abstract Book: 3-6.
Nagata K, Hasan M, Otani K,
Watanabe T, and Mizuno N.
2003. Debris Flow Sediment
Discharge at the Volcanic Area
of Mt. Merapi in Indonesia.
Proceeding of the 1st
International Conference on
Hydrology and Water Resources
in Asia Pasicif Region. Pa-lu-lu
Plaza, Kyoto, Japan.
Noriaki H, Kimio I, and Yoshikimi I.
2003. Large Scale Sedimentation
Disaster Caused by the
Eruption of Mount Pinatubo
Philippines. Proceeding of the
1st International Conference on
Hydrology and Water Resources
in Asia Pasicif Region. Pa-lu-lu
Plaza, Kyoto, Japan.
Paembonan, S., 1979. Evaluasi
Pelaksanaan Program Penyelamatan
Hutan, Tanah, dan Air
di Sub DAS Malino, DAS
Sa’dan, Propinsi Sulsel. Tesis
Pasca Sarjana, Insitut Pertanian
Bogor.
Ridho A., 2005. Pendangkalan Danau
dan Waduk: Proses,
Konsekwensi dan Penanganannya.
Jurnal Alami, Vol.10
Nomor 1: 14-18. Jakarta.
Tikno S, 2001. Inventarisasi Tingkat
Bahaya Erosi dan Usaha
Konservasi Tanah dan Air
Untuk Menunjang Pengembangan
Wilayah. Jurnal Alami, Vol.6
Nomor 1: 15-20. Jakarta.
Tjakrawarsa G. dan Hadinugroho
H.Y.S, 2003. Nilai Ekonomi
Erosi, Sedimentasi dan Jasa Air
Studi Kasus di Sub DAS
Jeneberang Hulu, Sulsel. Jurnal
Alami, Vol.8 Nomor 1: 32-39.
Jakarta.
Sosrodarsono, S., dan Takeda, 1978.
Hidrologi untuk Pengairan. PT.
Pradnya Paramita, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar